Khati, Peracik Kopi Otodidak dari Tanah Papua

Categories Gender InspiratifPosted on

JAYAPURA | fjpindonesia.com – Profesi meracik kopi, maupun barista, bukan saja digandrungi laki-laki. Tak sedikit kaum perempuan mulai terjun ke profesi ini. Seperti halnya perempuan asli Papua satu ini.

Adalah Kathinka Soumilena. Perempuan muda yang mengaku bukan barista profesional. Kathi panggilan akrab perempuan asal Depapre, Kabupaten Jayapura mengaku keahliannya meracik kopi didapatkan secara otodidak. Apalagi Kathi belum pernah mengecap pendidikan barista.

“Menyeduh kopi itu harus sepenuh hati. Pakai hati. Sa (saya) melakukannya dengan hati.” Itulah filosofi yang ditanamkan Kathi.

Kathi mengaku jatuh cinta kepada kopi, ibarat kopi telah menghipnotisnya. “Kopi menjerumuskan saya,” kata Kathinka, gadis asli Papua berumur 24 tahun.
Kathi bahkan pernah juara satu dalam even meracik kopi yang dibuat oleh salah satu cafe di Timika.

“Sa tra (tidak) pernah menyangka akan memenangkan kompetisi ini. Padahal lawan saya banyak barista dari Jayapura, Timika, dan kota lain di Papua,” jelas Kathi, ketika ditemui pada acara Bankers Brewing di Bank Indonesia perwakilan Provinsi Papua, beberapa waktu lalu, 16 Februari 2019.

Kathi mengaku mulai menikmati sebagai peracik kopi saat bekerja pada salah satu kafe di bilangan Sentani, Kabupaten Jayapura. Delapan bulan lebih ia mendalami urusan meracik kopi di kafe itu.

“Bisa karena terbiasa ya. Saya otodidak belajar meracik kopi. Setiap hari belajar dengan kopi, berbagai macam jenis kopi nusantara, ada kopi Arabika dari Aceh, Jawa Barat, dan daerah lainnya. Racikan saya lebih banyak didominasi kopi Papua, mungkin karena saya anak Papua dan ingin memberitahukan kepada semua orang bahwa hanya kopi Papua yang mantap,” ujarnya bangga.

Kathi yang bercita-cita ingin memiliki warung kopi sendiri, saat ini memiliki banyak tawaran pekerjaan, karena kepiawaian meracik kopi yang dimilikinya. Tapi, ia mengaku masih ingin memantapkan dirinya untuk terus belajar meracik kopi dan menunggu bantuan dana dari pihak pemerintah atau perbankan yang ingin membantunya dalam usaha yang akan dirintisnya.

“Saya masih tetap ingin punya tempat usaha sendiri dan sekolah barista,” kata gadis imut ini lagi.

Harapannya dengan memiliki tempat usaha sendiri, bisa membagi waktu untuk keluarga dan tetap bisa sekolah barista seperti yang dia mimpikan. (Lita)

Komentar