Kisah Dibalik Kabut Nduga, Papua

Categories Perempuan MenulisPosted on

Oleh: Vanny Janggo

“Hari ini jika Tuhan menghendaki sa meninggal dalam tugas, sa hanya bisa pasrah. Tapi satu pinta sa, Tuhan tolong peluk erat kedua orangtua sa dan jaga mereka selalu dimasa tuanya,” doa ku, saat kendaraan roda empat (mobil) yang nyaris jatuh ke jurang terjal dalam perjalanan dari Kabupaten Jayawijaya ke Kabupaten Nduga.

Tepatnya, 2 tahun lalu, 13 Maret 2017, sekitar pukul 09.00 WIB. Aku, Vanny Janggo, salah satu jurnalis perempuan mewakili Papua Channel TV mendapat tugas liputan ke Distrik Mbua, Kabupaten Nduga melalui jalan darat dari Wamena, Kabupaten Jayawijaya.

Cuaca saat itu cerah. Angin berhembus dan dinginnya terasa menembus pakaian. Waktu itu, aku berpakaian sebagai jurnalis televisi pada umumnya.

Satu persatu, mobil rombongan dari Ketua Komisi IV DPR RI, Sulaeman L. Hamzah bersama tim Bulog Provinsi Papua dan Bulog Kabupaten Jayawijaya siap menuju Kabupaten Nduga membawa bantuan 15 ton beras. Tiga belas mobil bak terbuka, satu persatu menghidupkan mesin dan mulai jalan dengan kecepatan rata-rata 40 hingga 60 kilometer per jam menuju daerah, yang bulan sebelumnya terjadi kasus Busung Lapar.

Untaian kata dalam doa keluar dari mulut ku, seiring roda mobil berputar, tanda perjalanan pun telah dimulai. Satu hingga 3 jam perjalanan, hatiku berdebar dibarengi rasa takut akan mati, lantaran medan jalan yang terjal yang kami lalui, menjadi pemandangan mengerikan.

Ketika hendak melalui gunung di Pundak Gajah, tiba-tiba mobil yang ku tumpangi tak mampu menanjak dan terselip.

“Hari ini jika Tuhan menghendaki sa meninggal dalam tugas sa hanya bisa pasrah. Tapi satu pinta sa, Tuhan tolong peluk erat kedua orangtua sa dan jaga mereka selalu dimasa tuanya,” doa ku.

Lucky Sibi rekan jurnalis televisi mewakili TVRI Lensa Papua, memberi semangat kepada saya dan berupaya membuat saya tersenyum dalam mobil yang telah diselimuti kabut tebal dengan jarak pandang 10 hingga 15 meter.

Tak hanya perjalanan yang memakan waktu, namun energi pun terkuras habis ketika perjalanan ekstrim mulai dirasakan setelah melewati Danau Habema, Jayawijaya.

“Nikmat apa lagi yang dapat kudustakan dari Mu Ya Tuhan Sang Pencipta alam semesta, alam yang indah dengan gunung-gunung batu menjulang tinggi bak piramida,” bisik hatiku saat itu.

Hembusan angin dingin suhu minus 13 derajat celsius pegunungan, mengalahkan dinginnya AC mobil. Kabut tebal menutupi tepian gunung berbatu dihiasi air terjun, serasa berada di Negara Eropa. Ketinggian rata-rata 40 ribu kaki di atas permukaan laut inilah membuat oksigen pun berkurang dan menguras daya tahan tubuh ku yang kali pertama jalan darat di wilayah Pegunungan Tengah.

Sungguh mata ini benar-benar dimanjakan dengan pemandangan keindahan alam Papua yang tak ada tandingannya.

Tiba-tiba, mobil yang saya tumpangi tak bisa menanjak. Saya dan beberapa orang lainnya turun. Tubuh saya mulai gemetaran dan perlahan mulai membeku sesaat setelah keluar dari mobil.

Lima jam pun berlalu, sekitar pukul 13.00 waktu Papua. Rombongan yang dikawal ketat aparat keamanan ini tiba dengan selamat di Distrik Mbua, Kabupaten Nduga, dan disambut hangat masyarakat, atas penantiannya menunggu bantuan dari pemerintah untuk menjawab harapan mereka pasca busung lapar yang melanda wilayah itu.

Cuaca gerimis dan berkabut tebal berjarak pandang 3 meter tak menyurutkan semangat ku melakukan tugas jurnalistik.

Lima jam ini benar-benar menguji nyaliku sampai tingkat tertinggi yang tak pernah ku rasakan sebelumya. Extrimnya jalan trans Papua bukan sekedar kata tapi nyata saya rasakan.

Mobil kami sampai, saya kaget masyarakat jalan bertelanjang dada gunakan pakaian seadanya. Mereka sambut kami dengan tangisan dan doa syukur sambil berbicara dalam bahasa daerah.

Daerah rawan konflik ini menjadi saksi bisu bagi ku, sebagai jurnalis perempuan merasa bahagia menginjakkan kakinya di kampung tersebut, dibalut kekhawatiran yang di alami. Akankah perjalanan pulang nanti ke Wamena Kabupaten Jayawijaya, sampai dengan selamat? Hati ini pun terus bertanya.

Siang itu kami tiba, sudah tak ada sinar matahari, hanya ada kabut tebal. Jadi kami satu jam saja dan langsung balik ke Jayawijaya.

Sekiranya pukul 14.30 WITA, saya bersama rombongan mulai perjalanan balik ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Perjalanan pulang ini memakan waktu lebih lama hingga 8 jam, karena tepat di gunung Pundak Gajah. Mobil yang ditumpangi sempat terundur hingga beberapa meter dan hanya tersisa beberapa sentimeter, mobil lepas landas ke jurang yang dalam.

Aku pun kembali berdoa, memohon keselamatan. Perjalanan liputan kali ini benar-benar banyak kendala, terutama saat perjalanan pulang karena sudah gelap dan jalan menanjak Pundak Gajah itu tanjakan paling lama yang kami lalui.

Mobil tidak mampu naik tanjakan sampe mobil mundur, dikit lagi masuk jurang.

Ini hanya sepenggal kisah tugas jurnalistik di Tanah Papua yang penuh dengan jalan ekstrim dan membuat jantung berdebar-debar, bahkan terus menerus berdoa dalam setiap jengkal yang dilalui.

Semoga, saya satu dari hitungan jari Jurnalis Perempuan di Papua dapat memberikan Anda bayangan, betapa kerasnya tugas liputan jurnalis di setiap pedalaman Bumi Cenderawasih ini. (*)

Komentar