Parmalim dan Kebebasan Beragama

Pertengahan November 2017 lalu, komplek rumah ibadah Parmalim di Jalan Air Bersih Medan kedatangan sejumlah tamu. Mereka datang untuk ikut menonton pemutaran film dokumenter berjudul “Ahu Parmalim” karya sutradara asal Jakarta, Cecil. Nonton bareng ini dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Toleransi Sedunia yang jatuh pada tanggal 16 November. Film ini bercerita tentang seorang remaja Parmalim bernama Charles yang tetap bangga dengan identitasnya meskipun menjadi kaum minoritas. Nonton bareng ini juga dihadiri oleh sejumlah media, organisasi masyarakat, dan kelompok agama minoritas lainnya.

Diskusi seputar film dan Parmalim pun terjadi usai film ditayangkan. Sambut gembira putusan Mahkamah Konstitusi awal November 2017 lalu bahwa agama penghayat kepercayaan bisa dicantumkan di kolom agama, menjadi topik hangat. Betapa selama ini para penghayat kepercayaan sangat dirugikan dengan dikosongkannya kolom agama bagi mereka di KTP.

Kepala jemaat Parmalim cabang Medan, Richan Simanjuntak, mengatakan diskriminasi negara yang dirasakan komunitasnya sudah terjadi lama. Termasuk ketika ingin membangun rumah ibadah. Syukurnya saat ini, perlahan-lahan kondisi mereka membaik seiring semakin terbukanya masyarakat terhadap penghayat kepercayaan.

“Kebebasan beragama menurut kepercayaannya masing-masing telah diakomodir dalam UUD 1945 sebagai dasar negara. Kami berharap keberadaan penghayat kepercayaan agama leluhur ini bisa dipandang sebagai bagian dari kekayaan Indonesia, apalagi kita percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa,” ujar Richan.

Saat ini penganut kepercayaan Parmalim yang berpusat di Hutatinggi, Laguboti, Toba samosir. Tersebar di berbagai wilayah di Sumatra dan di Jawa termasuk di daerah Aceh Selatan, DKI Jakarta dan Kawasan Sumatra sendiri.

Parmalim melakukan peribadatan setiap hari Sabtu dan memiliki dua hari peringatan besar setiap tahunnya mengikuti kalender Batak yaitu Sipaha Sada (Maret) dan Sipaha Lima (Juni-Juli). Kosmologi asli masyarakat Batak terdapat pada Pustaha yakni suatu kumpulan ilmu Batak. Isinya meliputi tumbaga Huling yang mencakup keagamaan, kerajaan dan adat istiadat. Disamping itu ada satu lagi yang disebut suraagong yakni yang terdiri dari pikiran dalam kegelapan yang isinya mencakup peperangan, kerajaan, dan ilmu batin. (jp)

Get in Touch

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Related Articles

FJPI Kalsel Salurkan Bantuan Banjir Lagi

Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Kalsel kembali mendistribusikan bantuan bagi korban banjir di wilayah Kalsel, yang kali ini diserahkan kepada warga Desa Sungai Pinang...

Tantangan Meliput ODHA di Tengah Pandemik Corona

Catatan Fellow Citradaya Nita 2019 (3) Final Terima Kasih PPMN dan Citradaya Nita 2019 Akhirnya, setelah melalui berbagai tantangan, kegiatan fellowship Citradaya Nita dari Perhimpunan Pengembangan...

Get in Touch

461FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Latest Posts