Ambon — Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Cabang Maluku terus memperkuat peran jurnalis dalam menghadapi tantangan era digital, khususnya terkait Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO). Melalui workshop bertema “KBGO dan Tantangan Jurnalis di Era Digital” yang digelar di Biz Hotel Ambon, Sabtu (1/8/2026), sebanyak 40 jurnalis perempuan dibekali pemahaman mendalam terkait isu tersebut.
Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kapasitas insan pers agar mampu menghadirkan pemberitaan yang tidak hanya akurat dan berimbang, tetapi juga beretika serta berpihak pada korban. Seiring meningkatnya kasus kekerasan digital, peran media dinilai semakin krusial dalam membentuk kesadaran publik.
Selain itu, workshop ini juga menjadi ruang diskusi yang mendorong jurnalis untuk lebih sensitif terhadap dampak psikologis dan sosial yang dialami korban KBGO. Dengan demikian, diharapkan praktik jurnalistik yang dihasilkan dapat lebih manusiawi dan bertanggung jawab.
KBGO dan Tantangan Baru di Era Digital
Ketua FJPI Maluku, Frida Rayman, menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital membawa dua sisi yang tidak terpisahkan. Di satu sisi memberikan kemudahan akses informasi, namun di sisi lain membuka ruang baru bagi berbagai bentuk kekerasan berbasis gender.

Ia menjelaskan bahwa KBGO dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti pelecehan di media sosial, penyebaran konten pribadi tanpa izin, doxing, hingga ancaman berbasis digital. Fenomena ini semakin kompleks dan sering kali sulit ditangani karena terjadi di ruang virtual yang luas dan anonim.
Lebih lanjut, Frida menyoroti bahwa perempuan menjadi kelompok yang paling rentan mengalami kekerasan tersebut. Oleh karena itu, jurnalis memiliki tanggung jawab besar untuk tidak hanya melaporkan peristiwa, tetapi juga memastikan pemberitaan tidak memperburuk kondisi korban.
Peran Media dalam Membangun Perspektif Korban
Dalam konteks ini, media tidak lagi cukup hanya menjadi penyampai informasi. Sebaliknya, media harus mampu berperan sebagai agen perubahan yang membangun kesadaran publik terkait isu kekerasan berbasis gender.
Frida menekankan pentingnya pemberitaan yang berlandaskan prinsip hak asasi manusia, akurat, serta berimbang. Selain itu, jurnalis juga perlu menghindari narasi yang menyudutkan korban atau membuka identitas yang dapat membahayakan mereka.
Melalui workshop ini, FJPI Maluku berharap para peserta mampu mengimplementasikan pendekatan jurnalistik yang lebih sensitif terhadap korban. Dengan demikian, produk jurnalistik yang dihasilkan tidak hanya informatif, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan ruang digital yang lebih aman.
Dukungan Kolaborasi dan Penguatan Ekosistem Jurnalistik
Kegiatan ini turut mendapat dukungan dari Inpex Masela, Ltd yang selama ini menjadi mitra FJPI Maluku dalam berbagai program pengembangan kapasitas jurnalis. Dukungan ini menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi isu KBGO.
Perwakilan INPEX, Evants Adam, menyampaikan bahwa tantangan yang dihadapi jurnalis perempuan semakin kompleks seiring perkembangan teknologi digital. Ia menilai bahwa peningkatan literasi menjadi kunci utama agar pemberitaan tidak menimbulkan dampak lanjutan bagi korban.
Selain itu, Evants juga menyoroti bahwa ancaman terhadap jurnalis perempuan bukanlah hal baru. Namun, dengan hadirnya teknologi digital, bentuk ancaman tersebut berkembang dan menjadi lebih sulit diantisipasi, sehingga membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif.
Workshop Interaktif Perkuat Kompetensi Jurnalis
Workshop ini tidak hanya menghadirkan materi teoritis, tetapi juga dilengkapi dengan diskusi interaktif dan sesi tanya jawab. Pendekatan ini memungkinkan peserta untuk berbagi pengalaman sekaligus memperdalam pemahaman terkait praktik peliputan KBGO.
Para peserta diajak untuk memahami bagaimana cara meliput kasus kekerasan berbasis gender tanpa melanggar etika jurnalistik. Hal ini mencakup penggunaan bahasa yang tepat, perlindungan identitas korban, serta penyajian fakta yang tidak bias.
Dengan adanya sesi interaktif tersebut, diharapkan jurnalis dapat lebih siap menghadapi tantangan di lapangan. Tidak hanya itu, mereka juga didorong untuk menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas, beretika, dan berpihak pada nilai-nilai kemanusiaan.
Secara keseluruhan, workshop ini menjadi langkah nyata dalam membangun ekosistem jurnalistik yang lebih aman, inklusif, dan responsif terhadap isu kekerasan berbasis gender di era digital.



